Cerita Jurnal Abal-abal

Oleh: Dr. Bambang Sumintono
Dosen Institute of Educational Leadership, Universiti Malaya, Kuala Lumpur, Malaysia.

Menarik biasanya kalau menceritakan dunia jurnal abal-abal alias jurnal bodong. Walaupun sudah banyak info beredar dan peringatan diberitahu bahkan ‘ancaman’ diberikan, ternyata ‘pasar’ jurnal abal-abal tidak surut, malah makin semarak. Banyak yang ‘lega‘ saat tahu beall’s list menghilang, sehingga dianggapnya bisa bebas hambatan, namun kecele, ada website lain yang juga melaporkan hal yang sama. Artikel ini menjelaskan tentang website pengganti beall’s list,  isu masuknya jurnal abal-abal yang sukses menembus Scopus, maupun diversifikasi bisnis abal-abal yang juga ternyata peminatnya tidak kesepian. Untuk memudahkan cerita, yang biasa disebut jurnal abal-abal adalah jurnal dengan proses review artikelnya yang asal saja dan meminta bayaran untuk publikasi artikelnya.

Dunia akademis pada akhir Januari 2017 dihebohkan dengan menghilangnya berbagai posting di website beall’s list di https://scholarlyoa.com/  yang biasa digunakan sebagai rujukan identitas jurnal abal-abal (predatory). Mulai dari daftar jurnal abal-abal, penerbit jurnal bodong, sampai kepada artikel biasa yang menceritakan seluk-beluk per-abal-abal-an pun hilang semuanya. Berbagai cerita berseliweran sampai menanyakan kondisi kesehatan Jeffrey Beall sendiri (sudah seperti urband legend). Bisa disimpulkan bahwa penyedia dan penggemar setia abal-abal selain menyukai kepalsuan juga tidak suka hal itu diungkit secara transparan, sehingga melakukan sesuatu yang membuat Mr Beall memutuskan untuk menghapus semua yang ada di website-nya.

Apa yang telah dilakukan Dr. Beall sebenarnya membuka mata tentang betapa empuknya dunia jurnal abal-abal. Satu koran Australia menyebutkan perputaran duit di dunia jurnal abal-abal mencapai $100 juta per tahun. Keuntungan yang didapat dengan modal website jurnal abal-abal ini, kemungkinan bisa melebihi bisnis dunia hitam, khususnya bila si jurnal sudah nemplok di list yang sangat bereputasi (tidak lain masa panen raya bagi pengelola jurnal). Untungnya dunia selalu tidak kekurangan stok orang baik, hilang satu maka tumbuh yang lain.

Daftar jurnal abal-abal dari Beall, digunakan oleh website lain dan diupdate terus. Salah satunya adalah di https://predatoryjournals.com/, dimana website ini tidak mengulangi ‘kesalahan’ yang dilakukan oleh Jeffrey Beall yang menampilkan sang pustakawan dengan senyum menawan, lengkap dengan profesi dan alamat kerjanya. Website  https://predatoryjournals.com/ bersifat anonim dan tidak diketahui server-nya dimana (juga mirror-site-nya ada berapa). Sehingga aman lah bila ada yang berniat untuk sekedar melakukan intimidasi karena bisnis gampangannya bakalan amburadul.

Yang bagus dari website https://predatoryjournals.com/ berisi daftar jurnal abal-abal ini adalah navigasi untuk mengetahui apa saja jurnal yang sudah dibajak (hijacked journals), daftar jurnal dan penerbit jurnal bodong, sampai kepada metrik ukuran yang kelihatan ngilmiah tapi menipu. Semua ditampilkan berurutan berdasar abjad.

Yang dimaksud jurnal dibajak biasanya adalah jurnal internasional yang bereputasi bagus (masuk dalam list Scopus atau Web of Science), namun biasa masih terbit secara tradisional (cetak), dan belum punya edisi online. Maka si pembajak dengan ‘baik hati’ menyediakan website untuk menampung orang yang mau publish artikel ilmiah di jurnal mentereng tersebut, tentu dengan bayar duit (padahal jurnal aslinya selalunya tidak pernah minta bayaran alias gratis). Sehingga aneh saat diverifikasi ternyata yang terbit online berbeda jauh dengan terbit cetak, kadang si penipu kreatif seperti disiplin ilmunya mengalami obesitas, menampung apapun yang dikirim oleh akademisi atau peneliti yang sudah ngebet pengen punya publikasi nginternasional.

Sedangkan misleading and fake metrics adalah upaya merayu lainnya dari jurnal abal-abal dan penerbitnya untuk menunjukkan produknya punya reputasi yang “hebat”. Yang paling banyak ditiru adalah perkataan ‘impact factor‘, aslinya ini adalah hak cipta dari Web of Science yang dimiliki oleh perusahaan Thompson-Reuters, yang menghitung reputasi jurnal berdasar jumlah sitasi artikel dalam kurun waktu tertentu. Maka si abal-abal pun tidak segan untuk menggunakan istilah ‘impact factor’ tadi di dalamnya, dengan berbagai variasi kata yang terlihat sah namun aslinya bodong.

Hal berikutnya yang menjadi heboh adalah suksesnya jurnal abal-abal menembus indeks  jurnal yang prestisius seperti Scopus. Hal ini dianggap mengherankan, karena anggapan yang umum, kalau masuk Scopus pasti berkualitas hebat. Sebenarnya bila kita tahu sedikit tentang bagaimana suatu jurnal masuk ke Scopus, maka tidak akan terlalu heran. Jurnal apapun pada dasarnya bisa mendaftarkan diri untuk bisa diindex Scopus, dalam disiplin ilmu apapun dan dalam bahasa apapun. Syarat yang diminta Scopus pun sebetulnya hal yang standar saja, seperti terbit tiga tahun berturut-turut secara teratur (tentu disertai bukti hardcopy atau website dan softcopy bila online), adanya nomor registrasi penerbitan berkala (ISSN misalnya), adanya sitasi dari jurnal lain (yang menunjukkan artikel di jurnal jadi rujukan ke riset lainnya) dll. Tinggal diajukan dan dipenuhi syaratnya, nanti oleh perusahaan induknya (Elsevier) akan dievaluasi. Dan bila sukses maka dimasukkan dalam index Scopus tersebut.

Bila dilihat syaratnya memang tidak terlalu ketat, dan mungkin harusnya kita melihat Scopus bukan sebagai ‘hantu’ yang menakutkan, namun sebagai basis data (data base) ilmiah yang cakupannya memang luas (sejauh ini Scopus sudah mengindex lebih dari 33 ribu jurnal dan konferensi). Karena besarnya jumlah jurnal per disiplin ilmu, maka Scopus pun melalui Scimago (product line dari Elsevier, yang merupakan pemilik Scopus) misalnya, membagi ‘kualitas’ jurnal dalam empat lapisan (Tier 1 sampai Tier 4, atau Q1-Q4). Yang Tier 1 adalah jurnal top dalam bidang disiplin ilmunya. Nah biasanya jurnal abal-abal yang sukses menembus Scopus ngumpulnya di Tier 4 (Q4), dan ada beberapa yang lolos ke Q3 juga.

Dari daftar yang dikeluarkan oleh Scopus tahun 2015 akhir itu, total ada 80 jurnal yang ditendang keluar (delisted), indikasi bahwa jurnal tersebut memang jurnal abal-abal. Hal yang tidak aneh sebetulnya bila kita memahami seperti apa beda jurnal kualitas bagus dan kualitas bodong; bahkan beberapa jurnal ini sudah dilaporkan di website beall list sebelumnya, namun Scopus baru bereaksi belakangan.

Misalnya dari daftar yang dikeluarkan Scopus di atas, ada yang bernama Asian Social Science. Jurnal ini memang pernah terdaftar di Scopus yang mulai diindex pada tahun 2011. Setelah diindeks, jurnal ini semakin lama semakin ‘laris’. Jumlah publikasi artikelnya meningkat secara drastis (tahun 2013: 488 artikel; 2014: 699 artikel; tahun 2015: 760 artikel).

Tentu menjadi pertanyaan kenapa bisa begitu? Yah harus diakui banyak universitas di dunia menginginkan dosen dan mahasiswa untuk publish dalam jurnal bereputasi yang di-index Scopus. Bagi dosen itu menunjukkan prestasi dan bisa naik pangkat; bagi mahasiswa artinya memenuhi syarat untuk lulus (beberapa universitas dunia tidak akan meluluskan mahasiswa walaupun tesis dan sidangnya sudah beres, bila belum juga punya publikasi di jurnal). Tentu oleh  penerbit jurnal abal-abal ini kesempatan emas untuk ‘panen raya’, sehingga peningkatan volume artikel tidak masalah bagi mereka, karena ini artinya keuntungan yang luar biasa. Bayangkan 1 artikel harus bayar US$ 400, dalam tahun 2015 saja, dengan menerbitkan 760 artikel, maka dia mengantongi keuntungan kotor sekitar US$ 304 ribu (setara Rp 3,952 milyar). Silahkan anda bandingkan dengan resiko bisnis judi buntut atau narkoba sekalipun, mana yang paling beresiko? dan secara enteng dapat untung Rp 330 juta per bulan dengan goyang kaki hanya bermodalkan website. Penerbit ini tidak hanya punya satu jurnal saja yang nonggol di Scopus. Sebagai bandingan jurnal internasional bereputasi, bila setahun terbit empat kali (empat nomor), dan sekali terbit maksimal memuat 15 artikel, maka totalnya dia hanya menerbitkan 60 artikel saja, itupun tidak ada satu artikel yang harus bayar. Ini juga berarti bila anda mengelola jurnal, masa kalah sama jurnal abal-abal yang bisa nembus Scopus.

Konferensi Abal-abal

Salah satu diversifikasi usaha dari jurnal abal-abal adalah konferensi abal-abal. Kadang malah satu paket, ikut konferensi maka nanti artikel juga dimuat di jurnal scopus (yang abal-abal). Jangan bayangkan bisnis ‘ngilmiah’ tipu-tipu akan rugi, biaya registrasi yang hanya US$300 sampai US$500, bila yang hadir ada 500 orang saja sudah dapat omset US$ 15-25 rebu sekali tepuk.

Ada beberapa teman yang bercerita tentang suasana konferensi abal-abal ini, ternyata diselenggarakan di sekelas hotel melati di satu negara Asean di utaranya Indonesia; pengaturan dan pengelolaan konferensi pun amburadul, dalam sesi paralel kadang diselenggarakan di ruang sempit dan peserta hanya yang presentasi. Tapi seperti biasa, saat pulang ke tanah air, cerita yang dibagi adalah ikut konferensi ngilmiah nginternasional di satu negara yang eksotis, lengkap dengan update ilmu pengetahuan terbaru yang didapatkan dan pamer foto (juga update status) di media sosial dengan latar belakang landmark negara eksotis tadi.

Akhir cerita, semua tergantung kembali ke anda, apakah memang mau ditipu mentah-mentah punya publikasi “hebat” di jurnal internasional atau ikut konferensi ilmiah, yang kadang sumber duitnya dari orang lain (baca: kantor), tapi ternyata isinya bodong. Kabar buruknya beberapa universitas sekarang secara ketat melihat riwayat publikasi jurnal abal-abal seseorang sebelum mereka memutuskan merekrut dosen/peneliti, penguji tesis, profesor tamu atau penerima beasiswa; jadi memang potensi akan kehilangan kesempatan yang lebih besar lagi nantinya bila keranjingan jurnal bodong.[]

Sumber: deceng2.wordpress.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *